Buku

12 Buku Indonesia yang Harus Anda Baca

Banyaknya penerbit buku di Indonesia menyebabakan buku karya penulis penulis Indonesia ini mudah ditemukan di toko toko buku seluruh Indonesia. Dengan adanya buku kita menjadi lebih luas dalam berwawasan. Tidak hanya buku dari negara luar yang bagus untuk dibaca. Ternyata buku buku asal Indonesia ini sangat bagus untuk dibaca.

Seperti buku buku dibawah ini, buku buku tersebut adalah buku buku dari penulis terdahulu. Buku buku ini telah dotejemahkan ke dalm abhasa inggris, hal ini menyebabkan karya penulis ini banyak diminati orang luar. Selain karena isi buku itu sendiri, tulisan yang sudah dirubah ke dalam bahasa ingris membuat penyebaran buku buku ini semakin luas.

Berikut 12 buku Indoneisa yang wajib di baca.

1.Before Dawn: Puisi Sapardi Djoko Damono (2005)

Penulis: Sapardi Djoko Damono

Before Dawn: Puisi Sapardi Djoko Damono

Diterjemahkan oleh John H. McGlynn, buku ini berisi puisi yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono, salah satu penyair paling terkenal di Indonesia. Buku ini berisi 30 puisi lebih, dari puisi Before Dawn hingga Tiba-tiba Malam, yang dirilis pada tahun 1987. Beberapa puisi paling populer dalam buku 2005 adalah Rain of June and I Want, dengan yang terakhir sering dikutip oleh dan bahkan ditayangkan oleh penggemar musik.

2. Lelaki Harimau (2004)

Penulis: Eka Kurniawan

Lelaki Harimau

Buku tersebut, yang baru-baru ini dinamakan sebagai nominasi untuk Penghargaan Internasional Man Booker yang bergengsi, mengikuti Margio, seorang anak muda dari daerah pedesaan di Indonesia, yang memutuskan untuk membunuh seorang pria. Hal ini membuat seluruh desa bingung karena Margio tidak tampak seperti orang yang dapat menyakiti siapa pun. Kejahatan terburuk yang pernah dilakukannya adalah mencuri ayam, yang dianggap sebagai sesuatu yang “terjadi karena dengki”.

Tapi, Margio benar-benar membunuh pria itu, apalagi dengan cara brutal. Ketika ditanya mengapa dia melakukannya, dia menjawab, “Itu bukan saya. Ada harimau di dalam diriku ”.

3. Negeri 5 Menara (2009)

Penulis: Fuadi Alif

Negeri 5 Menara

Ia adalah seorang anak desa dari Maninjau di Padang, Sumatra Barat. Meskipun ia bermimpi untuk menjadi BJ Habibie, mantan presiden negara itu, keadaan membuatnya membawanya ke Pondok Madani, sebuah pesantren di Jawa Timur. Meskipun pada awalnya kecewa, ia belajar kata-kata man jadda wa jadda selama waktu di sana, yang diterjemahkan menjadi “Dia yang bekerja keras harus berhasil” dalam bahasa Arab, dan kemudian menemukan hidupnya berubah karenanya.

4. Winter Dreams (2011)

Penulis: Maggie Tiojakin Nicky F.

Winter Dreams

Rompa pergi ke Boston, Massachusetts, untuk memiliki kehidupan baru. Selama ia menajalani kehidupannya disana, keluarga barunya, kekasihnya, dan bosnya — tampaknya semua orang di sekitarnya — mengajarkan kepadanya pelajaran baru tentang hidup dalam masyarakat multikultural. Ia tidak hanya harus belajar lebih banyak tentang dirinya melalui itu, ia juga memulai perjalanan yang akan berlangsung sepanjang hidupnya.

5. Antologi Rasa (2011)

Penulis: Ika Natassa

Dalam setting kehidupan kota modern, Keara, Ruly, dan Harris adalah teman. Apa yang membedakan mereka dari hanya berteman adalah perasaan yang mereka miliki untuk satu sama lain serta fakta bahwa mereka harus melihat orang yang mereka cintai mencintai orang lain.

6. 9 Summers 10 Autumns (2011)

Penulis: Iwan Setyawan

 9 Summers 10 Autumns

Dari Apple Town of Indonesia ke Big Apple. Dengan usaha dan pendidikan yang luar biasa, seorang anak lelaki dari Malang, Jawa Timur, berhasil mendaki ke New York, AS.

Meskipun akhirnya dia bisa menjalani kehidupan yang lebih baik, itu tidak menghapus perjuangan dan rasa sakit dalam dirinya. Pada satu titik, dia melihat kembali kehidupannya, mencari cinta yang keluarganya selalu miliki untuknya — hal yang akhirnya menyelamatkannya.

7. Laskar Pelangi (2005)

Penulis: Andrea Hirata

Laskar Pelangi

Ikal dan teman-temannya, Pasukan Peluncur, adalah anak-anak Belitung, sebuah pulau di lepas pantai Sumatra. Berada di kelas sosial termiskin, mereka berjuang untuk menerima pendidikan yang layak. Bahkan ketika sekolah mereka hampir tutup, mereka tidak menyerah dan, pada suatu acara, membuktikan kepada semua orang bahwa mereka tidak kalah berbakat daripada para siswa dari PN, sekolah dari orang-orang kaya di negeri itu.

8. Bumi Manusia  (1980)

Penulis: Pramoedya Ananta Toer (1980)

Bumi Manusia 

Kisah ini terjadi pada akhir era kolonial Belanda di Indonesia. Minke adalah seorang raja kecil Jawa yang mampu menghadiri Hoeger Burger School. Dia adalah penulis yang berbakat, tetapi dibenci oleh banyak orang karena hanya menjadi ‘pribumi’. Suatu hari, ia bertemu Nyai Ontosoroh, selir untuk Herman Mellema dari Belanda. Dia kemudian jatuh cinta pada Annelies, putri pasangan itu, dan akhirnya menikahinya dalam pernikahan Islam. Namun, pernikahan ini tidak dapat diterima di mata hukum Belanda karena hal itu dilakukan tanpa persetujuan wali hukum Annelies.

9. Max Havelaar (1860)

Penulis: Multatuli

 Max Havelaar

Edward Douwes Dekker, seorang pekerja Hindia Belanda yang tinggal di Indonesia selama periode kolonial Belanda, menulis sebuah buku untuk memprotes penjajahan dengan nama Multatuli. (Baca juga: 6 adaptasi buku-ke-film untuk ditonton tahun ini) Dalam buku itu, ia menciptakan seorang tokoh bernama Batavus Droogstoppel, seorang pedagang kopi yang menyengat yang melambangkan penjajah Belanda dan bagaimana mereka memperlakukan orang Indonesia pada saat itu.

10. Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai (1922)

Penulis: Marah Roesli

Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai

Ditulis pada tahun 1922, Sitti Nurbaya mengeksplorasi tema kolonialisme dan kawin paksa yang merupakan praktik umum selama waktu itu. Cerita ini berkisar pada Sitti Nurbaya dan Samsulbahri, dua teman masa kecil yang saling mencintai tetapi terpisah karena keadaan memaksa Sitti menikahi Datuk Meringgih, seorang pedagang yang kaya tapi teduh. Sitti akhirnya dibunuh oleh Datuk. Bertahun-tahun kemudian, ketika Datuk memprotes Belanda, Samsu yang bekerja sebagai tentara Belanda, membunuhnya dan kemudian mati juga. Ceritanya sering dikatakan memiliki pola yang sama dengan Romeo dan Juliet atau Butterfly Lovers.

11. Harimau! Harimau! (1975)

Penulis: Mochtar Lubis

 Harimau! Harimau!

Tujuh kolektor dammar menjelajah ke hutan Sumatra, dipimpin oleh seorang dukun (pemimpin spiritual tradisional) bernama Wak Katok. Di dalam hutan, mereka disergap oleh harimau. Semua kecuali satu dari mereka terbunuh. Sisa yang tersisa memutuskan untuk memburu harimau untuk keluar dari hutan, yang menuntun mereka untuk menemukan kesalahan Wak. Kisah ini digambarkan sebagai simbol protes oleh penulis terhadap orang-orang Indonesia yang ia anggap sebagai buta mengikuti presiden Indonesia pertama, Soekarno.

12. Arsitektur Hujan (1985)

Penulis: Afrizal Malna

Arsitektur Hujan (1985)

Kecemasan Mitos mengandung puisi karya Afrizal Malna, seorang penyair sekaligus penulis teks teatrikal yang karyanya telah digunakan di Indonesia dan negara lain. Dia kebanyakan menggunakan tema-tema modern, kehidupan kota urban dan segala sesuatu yang diperlukan. Dia juga menghubungkan benda-benda dalam karyanya, menciptakan gaya penulisan yang berbeda.

Arizqi Febrianti, perempuan kelahiran kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Menyukai Perjalanan, Pemandangan, Membaca dan juga Tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *