Catatan

Kisah Dibalik Budaya Pertanian Pribumi di Indonesia

Saat ini, pertanian adalah penggerak utama perekonomian Indonesia, dengan pertanian masyarakat mendapat makanan dan pendapatan. Gaya hidup pertanian membentuk budaya pertanian pribumi yang, pada akhirnya, membentuk bagaimana banyak orang Indonesia menjalani kehidupan sehari-hari mereka.

Sejarah

Pertanian dan perternakan di Indonesia berkembang bahkan sebelum negara itu ada dalam bentuknya saat ini. Sebelum kolonialisme, daerah yang sekarang membentuk Indonesia diperintah oleh kerajaan kuno yang terpisah. Pertanian berkontribusi secara signifikan terhadap ekonomi kerajaan. Potensi pertanian pulau-pulau adalah salah satu alasan utama mengapa kolonialis tertarik ke Indonesia, bersama dengan lokasi strategis negara itu pada jalur perdagangan yang sibuk.

Kolonialisme memberi pertanian di Indonesia sedikit dorongan. Alih-alih tanaman karbohidrat biasa seperti beras, jagung, dan singkong, para petani diperintahkan oleh pemerintah Belanda untuk menanam komoditas yang sangat berharga di pasar global. Ini termasuk kopi, teh, tembakau, dan tebu. Akhirnya, itu menyebabkan penurunan signifikan dalam produksi produk untuk penggunaan sehari-hari, yang mengakibatkan kelaparan di beberapa wilayah di Indonesia.

Jepang menduduki Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dari 1942 hingga 1945. Mereka mengalihkan fokus pertanian kembali ke karbohidrat, terutama beras. Setelah kemerdekaan, terutama selama era Orde Baru (1969-1998), beras tetap menjadi tanaman utama yang didorong oleh pemerintah. Namun, produksi tanaman lain terus berlanjut.

Pada 2017, Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar di dunia, produsen kopi terbesar keempat, produsen tembakau terbesar kelima, dan produsen teh terbesar keenam.

Warisan budaya

Seperti banyak aspek lain dari kehidupan orang Indonesia, pertanian telah dipengaruhi oleh naik turunnya agama dan kerajaan. Orang Bali menggabungkan prinsip Tri Hita Karana ke dalam kebiasaan pertanian mereka. Ini adalah prinsip Hindu yang mempromosikan harmoni antara manusia dan Tuhan, manusia lain, dan lingkungan. Di Bali, kuil dan persembahan dibangun di sekitar sumber air, pertanian diorganisir di sekitar masyarakat, dan sawah telah dibangun untuk mengairi sawah tanpa membuang sumber air.

Masyarakat petani mengoordinasikan Bali sesuai dengan alam. Petani yang mengairi sawah mereka dari sumber mata air atau air yang sama milik komunitas yang sama. Komunitas-komunitas tersebut mengatur pengembangan pertanian, memecahkan masalah, mengontrol distribusi air, dan mengatur upacara keagamaan. Sistem tradisional masih beroperasi di Bali hari ini.

Budidaya padi dan tanaman lain juga penting bagi sistem sosial dan komunitas di bagian lain di Indonesia. Untuk mengairi dan mengolah tanah secara efektif di daerah tertentu, hubungan terbentuk antara petani, antara pemilik lahan, antara petani dan pemilik lahan, dan antara pekerja harian.

Teras sawah mirip dengan yang ditemukan di Bali dapat ditemukan di bagian lain di Indonesia juga, seperti Sumatera dan Sulawesi. Namun, mereka mengikuti filosofi yang berbeda karena sistem kepercayaan yang berbeda dominan di bidang ini. Organisasi dan pertanian sawah di daerah tersebut mencerminkan kearifan lokal tentang cara bertani di daerah pegunungan sambil melestarikan air.

Orang-orang Jawa sangat filosofis tentang pertanian. Petani tradisional Jawa memandang pertanian bukan hanya sebagai tenaga kerja tetapi sebagai tugas spiritual dan eksistensial. Para petani tahu apa, di mana, dan bagaimana menanam, dan mengikuti pranoto mongso, atau aturan musiman tradisional, tentang apa yang harus ditanam pada waktu-waktu tertentu untuk hasil yang maksimal sambil menjaga keseimbangan alam. Orang Jawa juga terus menggunakan alat pertanian tradisional.

Arizqi Febrianti, perempuan kelahiran kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Menyukai Perjalanan, Pemandangan, Membaca dan juga Tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *