Buku

Resensi Novel Tere Liye Rindu

Judul novel     : Rindu

Penulis             : Darwis Tere Liye

Penerbit          : Republika

Tahun terbit  : 2014

Tebal buku     : 544 halaman

Peresensi        : Arizqi Febrianti

 

Tere Liye – Rindu

“Apalah arti memiliki, ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami?

Apalah arti kehilangan, ketika kami menangis terluka atas perasaan yang seharusnya indah? Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apapun?

Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.”

Dariws  atau Tere Liye lahir di Lahat, Indonesia, 21 Mei 1979; umur 39 tahun, dikenal sebagai penulis novel. Bahkan beberapa karyanya pernah diangkat ke layar kaca yaitu Hafalan Shalat Delisa dan Moga Bunda Disayang Allah.Meskipun beliau dapat meraih keberhasilan dalam dunia literasi Indonesia, kegiatan menulis cerita hanya sekedar hobi karena sehari-hari ia masih bekerja kantoran sebagai akuntan.

Tere Liye meyelesaikan pendidikan dasar di SDN 2 Kikim Timur  dan menengahnya  di SMPN 2 Kikim, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Lalu ia melanjutkan sekolahnya ke SMAN 9 Bandar Lampung, Provinsi Lampung. Setelah lulus, ia melanjutkan studinya ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Kegiatannya setelah selesai kuliah lebih banyak diisi dengan menulis buku-buku fiksi.

Sipnosis singkat

Novel ini bercerita tentang perjalanan panjang jamaah haji Indonesia tahun 1938. Tentang kapal uap Blitar Holland, mengenai sejarah nusantara. Dan tentang pertanyaan-pertanyaan seputar masa lalu, kebencian, takdir, cinta, dan kemunafikan,dan kenyataan hidup. Cerita ini berlatar waktu pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Yakni pada masa ketika Belanda masih menduduki Indonesia. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda memberikan layanan perjalanan haji untuk rakyat pribumi yang memiliki cukup uang. Perjalanan tersebut dilakukan melalui jalur laut yakni menggunakan kapal uap besar yang merupakan perkembangan teknologi transportasi tercanggih pada masa itu. Salah satu kapal yang beroperasi untuk melakukan perjalanan haji ini adalah kapal uap Blitar Holland. Di kapal besar inilah segala kisahnya dikupas tuntas.

Daeng Adipati, seorang yang dari luar terlihat sempurna. Memiliki karir yang bagus, istri yang cantik serta dua anak perempuannya yang lucu. Namun, dibalik itu semua ada sesuatu yang disembunyikan oleh Daeng Adipati yaitu kebencian terhadap ayahnya.

Tokoh kedua adalah Ambo Uleng. Seorang kelasi pendiam dan misterius. Walaupun ia pendiam namun sifatnya baik. Di novel ini, Tere Liye menceritakan jika Ambo Uleng ingin menjauhi tanah Makassar, karena ada sesuatu yang ingin dihindarinya yaitu Cinta.

Ada juga seorang guru ngaji di kapal itu yang bernama Bonda Upe. Ia memiliki masa lalu sebagai cabo(pelacur) dan masa lalunya ini menghantuinya di setiap malam.

Ada lagi sepasang suami istri, Mbah Kakung dan Mbah Putri yang sudah berumur walaupun mereka sudah tua tapi  masih sangat romantis. Ketika membaca cerita suami istri ini berhasil membuat saya merinding membayangkan kisahnya.

Kisah terakhir adalah kisah seorang ulama yang sangat dihormati bernama Gurutta Ahmad Karaeng. Ulama ini bisa menjawab pertanyaan dari mereka yang hatinya sedang gundah gulana namun ia tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri.

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia. Apakah mudah melakukannya? Itu sulit. Tapi bukan berarti mustahil.”

Kekurangan

Novel sangat panjang dan beberapa ceritanya mudah di tebak. Novel ini banyak  menceritakan tentang Anna dan Elsa. Dan  diawal cerita terlalu bertele-tele sehingga membuat pembaca menjadi bosan.

Kelebihan

Kisah yang dituturkan menggunakan gaya bahasa kekinian, membuat novel yang berlatar jaman penjajahan ini tidak baku.  Walau alur ceritanya maju mundur, sang penulis tetap pandai mengemas dialog dan membawa pembaca ke rasa penasaran yang luar biasa. Pembaca sengaja dipermainkan emosinya agar tetap penasaran akan alur cerita, dan terus bersabar menunggu pertanyaan – pertanyaan itu tibaSekalipun sedikit membosankan di bagian awal, tapi dengan cerdas penulis memberikan kejutan yang tak terduga dibagian tengah hingga akhir cerita

Kesederhanaan sudah jadi ciri khas novel-novel karya beliau, oleh karena itu dalam novel “Rindu” ini pembaca tidak akan menemukan kemewahan sedikitpun, termasuk kisah cinta abal-abal. Novel Rindu ini menjadi bacaan dengan ide yang menginspirasi dan juga segar bagi pembaca. Tema perjalanan haji di zaman penjajagan hindia belanda akan menyisakan kesan tersendiri. Selain itu, pembaca akan dibuat jatuh cinta dengan tokoh-tokoh di dalamnya. Dan yang tak kalah penting, ada sesuatu pemahaman baru yang terkenang bagi para pembaca. Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh hati kita yang sudah jatuh dalam barusan kalimat novel ini.

“Lepaskanlah. Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”

Selamat membaca, Salam Aksara!

Arizqi Febrianti, perempuan kelahiran kota Dawet Ayu, Banjarnegara. Menyukai Perjalanan, Pemandangan, Membaca dan juga Tidur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *