Cantik Itu Luka (Resensi)

Judul : Cantik Itu Luka

Penulis : Eka Kurniawan

Peresensi : Arizqi Febrianti

Jumlah halaman : 494 halaman

Tahun Terbit : Cetakan kelima, januari 2015

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-1258-3

Di akhir masa kolonial, seorang perempuan dipaksa menjadi pelacur. Kehidupan itu terus dijalaninya hingga ia memiliki tiga anak gadis yang kesemuanya cantik. Ketika ia mengandung anaknya yang keempat, ia berharap anak itu akan terlahir buruk rupa. Itulah yang terjadi, meskipun secara ironik ia memberikan nama Si Cantik.

Eka Kurniawan  adalah seorang pria kelahiran di Tasikmalaya,1975. Menyelesaikan pendidikan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada 1999.  Novel pertamanya dalah Cantik Itu Luka. Novel ini telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang, Malaysia dan juga Inggris.

Novel ini berlatar sejarah pada masa pendudukan kolonial di tengah penjajahan belanda, pendudukan jepang, agresi militer, masa komunis tahun 1965, dan masa setelahnya. Tokoh utama dalam novel ini adalah Dewi Ayu. Ia adalah keturunan Indo-Belanda, dengan paras cantiknya ia terpaksa menjadi seorang pelacur hingga akhir hayatnya. Ia memiliki empat anak perempuan yang tidak ia ketahui siapa ayahnya.

Banyak misteri yang penulis tuang dalam buku ini, seperti kebangkitan Dewi Ayu setelah 21 tahun wafat. Tentang seluk beluk Kermed Kliwon sang komunis yang akhirnya memilih untuk bunuh diri. Tentang cucu Dewi Ayu yang mengaku dihamili oleh seekor anjing. Dan masih banyak misteri yang selalu berhasil membuat penasaran pembacanya.

Ada beberapa kutipan dari novel ini yang menarik bagi saya,

“kawin dengan orang yg tidak dicintai jauh lebih buruk dari hidup sebagai pelacur”

“ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya”

“orang orang tertindas, hanya memiliki satu alat untuk melawan, yaitu ; amuk. Dan jika aku harus memberitahumu, revolusi tidak lebih amuk bersama sama, diorganisir oleh sebuah partai”

” patah hati karena kekasih yang cantik ? hey ku beri kau saran nak, carilah kekasih yang buruk rupa, ia cenderung tak kan membuatmu terluka”

Kekurangan

Bahasa yang berbelit dan alur maju mundur yang susah dipahami diawal membacanya. Novel ini terlalu fulgar untuk remaja, karena bahasa yang digunakan terlalu dewasa. Kata kata kasar juga banyak ditemukan dalam novel ini.

Kelebihan

semua tokoh dalam buku ini terlibat dalam penyusunan cerita. Tidak hanya tokoh utama yang menjadi sentral cerita, tetapi seluruh tokohnya ikut diceritakan secara detail. sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga,jadi mempermudah pembaca untuk tahu siapa yang sedang berdialog.

Bagi kalian yang ingin menikmati kisah masa penjajahan yang mengesankan buku ini bisa didapatkan dengan mudah di toko buku offline maupun olnine. Dengan alur cerita yang sulit diterka dan kata kata yang begitu mendalam buku ini wajib kalian miliki. Semoga apa yang kalain cari ada di buku Cantik Itu Luka.

sebab, cantik itu luka

 

Tinggalkan komentar