Penulis Paling Terkenal di Indonesia

10 Penulis Legendaris di Indonesia

Apakah penulis kebanggan kalian termasuk salah satu di antara ke-10 penulis ini?

Tidak banyak orang yang menyadari semangat dan kecemerlangan dari sastrawan Indonesia, lingkup hidup yang setara dengan budaya, sejarah, dan dinamika bangsa yang beragam.

Literasi menjadi dunia yang tidak bisa dianggap remeh. Setiap harinya berbagai macam tulisan muncul. Mulai yang menulis dengan kertas dan pena sampai media online. Banyak pula platform atau tempat yang bisa dijadikan halaman tulisan kita.

Meski kini banyak media online sebagai tempat menulis, tapi nyatanya novel masih menjadi buku yang digemari apa lagi jika novel tersebut dapat meninspirasi.

Kini banyak penulis asal Indonesia yang berhasil menciptakan novel yang cukup fenomenal. Mereka tidak hanya berhasil menciptakan novel yang berkali-kali dicetak ulang. Tapi, juga menjadi inspirasi bagi anak muda yang ingin menelurkan karya dalam sebuah media tulis menulis.

Berikut adalah 10 penulis paling terkenal di Indonesia.

1. Pramoedya Ananta Toer

Kehidupan memberi Pramoedya Ananta Toer banyak cerita yang dia bagi kepada dunia dengan ketenangan dan kecemerlangannya.

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 37 bahasa, termasuk cerita semi-otobiografi dari Blora (1952) dan Buru Kuartet yang terkenal.

Sebagai seorang pemikir intelektual sekaligus penulis, Pramoedya telah dipenjarakan oleh koloni dan pemerintah pasca kemerdekaan Indonesia untuk gagasan progresifnya.

Meskipun banyak dari buku-bukunya telah dibakar atau dilarang, karya-karya Pramoedya yang masih terselamatkan memberi kita pandangan yang rumit dan menawan ke episode-episode masa lalu Indonesia dari sudut pandang pribadinya.

Pramoedya Ananta Toer

 

Stop! Rasialisme anti minoritas apa pun harus tak terjadi lagi di Indonesia. Sungguh suatu aib yang memalukan. Dalam lebih setengah abad dan ber-Pancasila, bisa terjadi kebiadaban ini kalau bukan karena hipokrisi pada kekuasaan

Pramodya Ananta Toer

2. Nh. Dini

Anak perempuan dari seorang pembuat batik Jawa, Dini tumbuh mendengarkan cerita-cerita ibunya dari sastra tradisional, yang kemudian membantu membentuk perspektif uniknya sendiri tentang dunia.

Di antara 20 buku dan berbagai karya sastra lain miliknya banyak yang diterima dengan baik dan dihargai sebagai epos feminis progresif tahun 1970-an di Indonesia, meskipun ditulis dengan nada yang agak konvensional. Dia berbicara tentang peran, hakim, dan realita kehidupan antara dua jenis kelamin, terutama untuk wanita.

Karya-karyanya yang paling populer termasuk On A Boat (1972), My Name is Hiroko (1977), dan Heart of Peace (1998).

Selama tahun-tahun terakhir hidupnya, Dini masih sibuk melakukan kegiatan amal untuk mempromosikan kemelekan remaja, termasuk membuka pondok bacan sendiri di Semarang.

Nh. Dini

 

“Kesedihan tidak untuk dipampangkan kepada semua orang. Itu adalah sesuatu yang seharusnya diimpit-diindit, diselinapkan di balik lapisan penutup. Karena kesedihan adalah hal yang sangat pribadi, seperti rahasia, harus disembunyikan dari pandang orang lain.”

Nh. Dini

3. W.S. Rendra

Sebagian besar dikenal karena drama dan puisinya, W.S. Rendra adalah seorang sastrawan serba-serbi dari Indonesia. Ia juga seorang aktor, sutradara, dan dramawan.

W.S. Rendra dikenal di banyak negara dan bahkan menjapatkan nominasikan untuk Hadiah Nobel Sastra beberapa kali.

Karya-karyanya juga telah dipelajari dan dibahas oleh para sarjana dari seluruh dunia.

Ketajaman dan pengamatan tajamnya tentang politik dan masyarakat telah menyebabkan pemenjaraan berulang dan pelarangan, tetapi itu hanya membuktikan kecemerlangan dan signifikansi dari karya-karya tersebut.

Antologi puisi dan puisi Rendra, serta teaternya di Depok, Jawa Barat, telah menjadi salah satu warisan paling penting dalam kesusastraan Indonesia.

 

 W.S. Rendra

Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.

W.S Rendra

4. Andrea Hirata

Keberhasilan novel debut Andrea Hirata yang berjudul Laskar Pelangi (The Rainbow Troops), membuka pengaruh besar pada, keaksaraan dan juga  pariwisata di Indonesia. Novel tahun 2005, yang dibuat di surga tropis Pulau Belitung yang sekarang terkenal, diikuti oleh buku-buku terlaris lainnya yang memukau para pembaca bahkan di luar Indonesia.

Karya-karyanya yang terbaik telah menginspirasi film dan serial TV, serta museum sastra yang dibangun di Belitung untuk merayakan kebanggaan warga lokal. 

Anrea Hirata dicintai karena kisah-kisah yang mengharukan tentang anak-anak dari asal-usul yang sederhana mengejar impian mereka, dengan segala ketidakbersalahan, gairah, dan cara hidup yang aneh.

Andrea Hirata

 

Hari ini aku belajar satu hal penting darinya bahwa jika tidak bersedih atas sebuah kehilangan menimbulkan perasaan bersalah, hal itu merupakan kesalahan baru, sebab kesedihan harusnya menjadi bagian dari kebenaran.

Andrea Hirata

5. Sapardi Djoko Damono

Penulis dan penyair senior ini telah memiliki karier yang panjang dan sukses menerbitkan puluhan buku dan antologi sejak tahun 1969 hingga saat ini.

Prof Dr Sapardi Djoko Damono dicintai karena syairnya yang lugas, non-megah namun fasih, menyenangkan untuk dibaca.

Novelnya yang terakhir yaitu Pingkan Melipat Jarak, diterbitkan pada tahun 2017, ketika ia berusia 77 tahun,hal ini membuktikan produktivitas Sapardi dan relevansinya sepanjang kariernya yang luas.

Banyak buku, novel, dan puisi antologinya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk dialek lokal Indonesia

Sapardi Djoko Damono

 

Kita berdua saja duduk,
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput,
Kau entah memesan apa,
Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras,
Kau entah memesan apa,
Tapi kita berdua saja duduk

Sapardi Djoko Damono

6. Ayu Utami

Pikiran dan cara hidup Ayu Utami yang tidak biasa telah memberinya suara berani dan unik yang ia ungkapkan dengan kecerdasan luar biasa.

Jurnalis yang menjadi penulis adalah pemain besar dalam gerakan sastra wangi dalam sastra Indonesia, di mana perempuan muda mengambil isu-isu yang tidak konvensional dan kontroversial seperti seks, politik, dan sejarah.

Novel debutnya, Saman, telah dicetak ulang sebanyak 34 kali dan masih menjadi salah satu karya sastra Indonesia yang paling terkenal.

Sejak itu, Ayu Utami telah menerbitkan lebih banyak novel, esai, dan bahkan skenario yang paling laris, yang bermuatan politis.

Ayu Utami

 

Mungkin kita tidak punya kemampuan untuk mengampuni. Yang bisa kita lakukan adalah berdamai dengan sisi lain manusia yang tak kita mengerti

Ayu Utami

7. Dewi “Dee” Lestari

Sebagai seorang penyanyi yang berubah menjadi penulis, ketenaran Dewi Lestari sudah jauh sebelum buku pertamanya diterbitkan.

Ia bahkan sempat mengikuti pameran buku internasional dengan sembilan buku bagus di bawah ikat pinggangnya, empat di antaranya telah masuk ke layar lebar.

Meskipun Dewi Lestari adalah seorang penulis kontemporer terkenal, seri Supernova yang memenangkan penghargaan sering dianggap sebagai fiksi klasik Indonesia.

Melalui karya sastra dan konsistensinya yang ditulis dengan baik, Dewi sering memasuki daftar buku terlaris.

Dewi “Dee” Lestari

 

Pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji atau kesetiaan. Tidak ada, sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak dipaksa oleh apapun dan oleh siapapun.

Dewi Lestari

8. Goenawan Mohammad

Penulis dan penyair senior dari Indonesia ini telah memelopori lahirnya sastra selama beberapa dekade, dengan peninggalan mulai dari esai yang harus dibaca hingga penerbitannya sendiri (Tempo) dan teater (Komunitas Salihara).

Setelah pensiun dari jurnalisme, Goenawan tetap produktif menciptakan karya sastra seperti drama, puisi, buku, dan banyak lagi.

Beberapa antologinya, seperti Parikesit (1969) dan Interlude (1971), telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa.

Sementara rangkaian kolomnya, Sidelines (Catatan Pinggir), masih banyak dibaca dan direferensikan oleh generasi muda.

Bagi banyak orang, Goenawan Mohammad tidak hanya pelindung seni dan sastra, ia juga seorang intelektual dengan ide-ide dan gagasan yang patut dicatat bahwa penerbitannya dilarang selama masa Orde Baru Indonesia.

Goenawan Mohammad

 

“Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi– tapi yang selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan.”

 Goenawan Mohammad

9. Mochtar Lubis

Novelis / jurnalis ternama ini memiliki ciri khas penulis dan pemikir yang brilian selama Indonesia pasca kemerdekaan.

Dia dipenjarakan selama hampir sembilan tahun oleh presiden pertama, Soekarno, karena novel Twilight di Jakarta mendapat pujian dan popularitas di luar negeri bahkan sebelum diterbitkan di Indonesia. Novel tersebut, yang pada tahun 1963 adalah salah satu buku Indonesia pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, telah ‘diekspor’ ke negara asalnya bertahun-tahun kemudian dan terus menjadi salah satu keping sastra Indonesia yang paling berharga.

Buku Subversive Notes (1980) menyampaikan pemikiran dan renungan Lubis selama tahun-tahun penahanannya, dan karya jurnalistik dan sastranya yang lain telah menjadi subyek studi penting oleh para sarjana internasional.

Mochtar Lubis

 

Jika engkau besar, jangan sekali-kali kau jadi pegawai negeri. Jadi pamong praja! Mengerti? Sebab sebagai pegawai negeri orang harus banyak menjalankan pekerjaan yang sama sekali tak disetujuinya. Bahkan yang bertentangan dengan jiwanya. Untuk kepentingan orang yang berkuasa, maka sering pula yang haram menjadi halal, dan sebaliknya.

 Mochtar Lubis

10. Eka Kurniawan

Mungkin lebih dikenal di dunia sastra internasional daripada Indonesia, Eka Kurniawan menjadi orang Indonesia pertama yang dinominasikan untuk Hadiah Internasional Man Booker pada tahun 2016, hanya setahun setelah novelnya tahun 2004 diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Man Tiger.

Novelnya yang lain, Beauty is a Wound, adalah salah satu dari 100 buku terkenal The New York Times.

Penghargaan, penghormatan, dan intensitasnya dalam menciptakan karya-karya luar biasa telah membuat Eka Kurniawan disebut sebagai ‘penulis kontemporer Indonesia terbaik. Bahkan kebanyakan orang, seringkali menganggap Eka Kurniawan sebagai penerus Pramoedya Ananta Toer yang terkenal, kadang-kadang bahkan disamakan dengan Haruki Murakami karena surealisme dan satir.

Eka Kurniawan

 

“Apakah ia memiliki cinta? Tidak. Ia tak pernah mencintai siapa pun. Tak ada burung pelatuk lain yang menarik perhatiannya. Ia burung tanpa cinta. Jika ada cinta, itu hanya cinta kepada pekerjaannya mematuki batang pohon. Tak lebih. Bagi makhluk lain, apa yang dilakukannya terlihat menyedihkan. Tapi siapa kita sehingga berhak menghakimi perasaan makhluk lain?”

Eka Kurniawan

 

Apakah penulis kebanggan kalian termasuk salah satu di antara ke-10 penulis ini?

Tokoh tokoh tersebut memiliki peran penting dalam kebebasan menulis dan berpendapat di Indonesia, bahkan beberapa penulis yang di sebutkan tadi harus dipenjara karena karya sastranya sendiri.

SALAM LITERASI!

 

Tinggalkan komentar