Resensi Catatan Juang

Catatan Juang
karya Fiersa Besari

Judul Buku : Catatan Juang

Penulis : Fiersa Besari

Peresensi : Arizqi Febrianti

Penerbit : Mediakita

Tahun Terbit : Desember, 2017 Cetakan Pertama

Jumlah Halaman : 306 hal

ISBN               : 978-979-794-549-7

Berkonspirasi dengan Catatan Juang

Fiersa Besari adalah laki-laki kelahiran Bandung tanggal 3 Maret.BUNG adalah sapaan akrab Fiersa. Setelah menyelesaikan studinya di STBA Yapari ABA Bandung, Bung yang sudah lama jatuh cinta pada dunia musik membuat sebuah studio komersil pada tahun 2009. Di sana pula ia merekam karya-karyanya. Bung pun menyebarkan lagu-lagunya diwww.soundcloud.com/fiersa. Selain sebagai musisi ia juga menulis buku.

Buku pertamanya adalah Garis waktu, buku keduanya adalah Konspirasi Alam Semesta, bukunya yang ketiga adalah Catatan juang yang merupakan sempalan dari buku Konspirasi  Alam Semesta, bukunya yang keempat adalah arah langkah. Kali ini saya akan meresensi buku bung Fiersa yang ketiga, yaitu Catatan juang.

Catatan Juang adalah bukunya yang terbit tahun2017 dimana buku tersebut berkisah tentang Kasuarina atau Suar, yang tidak sengaja menemukan sebuah buku bersampul merah dan tampak usang tergeletak di lantai mobil angkutan umum. Seraya berharap menemukan nama dan alamat si penulisnya, maka Suar mulai membacanya sepintas. Namun bukannya menemukan alamat penulis buku, suar malah terinspirasi pada semua tulisan yang terdapat dalam buku bersampul merah itu.

Hingga akhirnya suar kelur dari pekerjaannya yang membosankan itu dan keluar dari zona nyamannya, ia termotivasi setelah membaca kalimat pada buku bersampul merah itu yang bertuliskan

“Ayolah, bangun dari tidur lelapmu. Kau takkan ada di tempat kerjamu beberapa belas tahun lagi. Kau takkan ada di muka bumi beberapa puluh tahun lagi. Akan selalu ada orang yang lebih baik untuk menggantikanmu. Namun, alam raya akan tetap menyajikan keindahannya sampai kapan pun, menunggu untuk kau nikmati. Yakin, kau masih betah berdiam diri di kamarmu? Yakin, kau tak mau melakukan petualangan? Yakin, kau tak merasa bahwa dirimu diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar? Atau begini saja mudahnya, apa pun yang kau lakukan, pastikan hidupmu berarti.” -Kakimu Bukan Akar, Melangkahlah (hal. 54)

Dengan segala kalimat pada buku bersampul merah itu suar memutuskan untuk bertualang dan melanjutkan kehidupan seperti yang ia inginkan, namun tidak semudah itu, ia bertemu banyak masalah, hingga akhirnya ia bertemu dengan beberapa tokoh lama di Konspirasi Alam Semesta.

Buku bersampul merah itu menuntunnya menemukan sahabat juang. Hingga akhirnya suar bertemu dengan pemilik buku bersampul merah itu.

Catatan Juang ibarat buku motivasi bagi pemuda pemudi  yang dibalut dengan  cerita mengenai impian Suar dan kisah asmaranya bersama Dude. Kondisi politik, sejarah, lingkungan, dan hal-hal di sosial media tak luput di kritik.

Dengan membaca buku ini saya seperti sedang diberi motivasi oleh penulis, bagi kalian yang sudah membaca buku Konspirasi Alam Semesta wajib banget baca buku Catatan Juang, karena ada sudut pandang lain di buku ini.

Kekurangan

Bahasa yang ditulis memang cukup berat, namun jika sudah terbiasa membacanya, saya yakin kalian akan jatuh cinta pada buku ini. Jika kalian belum membaca buku sebelumnya yaitu Konspirasi Alam Semesta mungkin kalian akan bingung dari mana tokoh itu muncul, dan sebaginya.

Kelebihan

Cerita yang ditulis begitu nyata, tidak berlebihan. Yang yang paling penting, buku ini dapat memotivasi kita untuk lebih baik lagi. Saya juga suka cover buku ini, karena terkesan misterius,kumal, dan membuat saya penasaran.

“Kamu tidak akan pernah bisa menduga kejutan yang bisa kamu dapatkan ketika membaca sebuah buku. Bisa jadi suatu saat kamu akan menemukan dirimu dalam tulisan orang lain. Mungkin juga, kamu bisa mengubah sifatmu, menjadi seperti apa yang kamu baca. Kamu tidak akan pernah tahu, sampai kamu menyelesaikan bacaanmu. Apa pun itu, tidak pernah ada ruginya kegiatan membaca. Bacalah sebuah buku hari ini, temukan kejutan yang akan mengubah banyak hal dalam hidupmu, selamanya. ” – Fiersa Besari

Dan untukmu yang baru saja akan mulai menulis, selalu ingat ini: menulis adalah terapi. Dan kita tidak perlu melakukannya agar terlihat keren dihadapan orang lain, atau berekspektasi punya buku yang diterbitkan penerbit besar. Menulis adalah sebuah kebutuhan agar otak kita tidak dipenuhi oleh feses pemikiran. Maka, menulislah. Entah itu di buku tulis, daun lontar, prasasti, atau bahkan media sosial, menulislah terus tanpa peduli karyamu akan dihargai oleh siapa dan senilai berapa. Menulislah meski orang-orang mengejekmu. Menulislah agar kelak saat kau meninggal, anak-cucumu tahu bahwa suatu ketika engkau pernah ada, pernah menjadi bagian dari sejarah. (hal. 198)

Salam Aksara!

Tinggalkan komentar